Kaca Mata Doli Kurnia
Sebagai wakil rakyat, kami memiliki tugas memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, DPR RI yang merupakan lembaga resmi negara, merupakan wajah negara dalam pergaulan internasional. Dua poin itu melengkapi tugas “tradisional” parlemen, seperti pengawasan dan budgeting. Dari sini saya tergerak untuk berbicara, menyuarakan—bukan hanya tugas melekat di Komisi masing-masing, melainkan juga menterjemahkan politik negara dan advokasi dalam berbagai isu. Maka buku ini merupakan penerjemahan dari prinsip tersebut, dimana anggota DPR kudu mampu memaksimalkan semua saluran komunikasi yang ada untuk bersuara. Sebagaimana makna kata Parle itu sendiri yang tak lain adalah berbicara. Tentu yang dimaksud bukan sekedar “omon-omon”, melainkan pemihakan demi membela kepentingan nasional.
Maka dari bab per bab, kita akan menjumpai pemikiran penulis lintas isu. Mulai dari Pemilu, Generasi Muda, Partai Golkar, hingga Palestina. Pada isu seputar pemilu, sebagai Ketua Komisi II periode 2019-2024, kita berhasil mengawal pelaksanaan elections yang dilakukan serentak dalam kondisi damai, aman dan mengantarkan transisi pemerintahan secara beradab.
Tentu saja ada kekurangan di sana-sini, namun paling tidak, masyarakat dapat menerima hasil proses demokrasi tersebut. Kami pun belum puas dengan pemilu (dan sistem politik) yang saat ini berjalan. Misalnya saja masih rendahnya Party-ID, dimana pemilih belum merasa terikat dengan partai yang merupakan kendaraan politik warga dalam demokrasi.
Buku ini merupakan kumpulan Kolom / Opini penulis di berbagai media, seperti Kompas, Detik, Kumparan, Indopos, JPNN dan sebagainya. Disini yang perlu kita tekankan bahwa tradisi menulis semakin mendapat tantangan di tengah kemajuan new media. Meski begitu, sebagai aktivis HMI, kami selalu ingin menjadi seperti Nurcholis Madjid, yang namanya selalu dikenang karena tulisan-tulisannya. Begitu pula Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, Sjahrir, dan para pendiri republik. Mereka tidak hanya berjuang, angkat senjata dan bicara. Lebih dari itu mereka menulis, melawan penjajahan melalui pikiran, sehingga kita merasa dekat dengan para pahlawan itu—karena membaca karya- karyanya.
Propaganda ideologi Pancasila masuk pada tipologi propaganda sosial dan propaganda integrasi. Propaganda sosial tipenya berangsur merembes menyangkut cara hidup atau idologi. Sementara propaganda integrasi menggalang kesesuaian di dalam mengejar tujuan-tujuan jangka panjang. Pancasila bukan produk instan. Ideologi ini lahir dari suasana kebatinan untuk mempersatukan perbedaan, tujuannya pun jangka panjang, yakni menghargai, menghormati dan merawat keragaman. Teknik propaganda yang digunakan dalam meresonansikan ideologi Pancasila di media massa jika disimak di berbagai paltform ada tiga. Pertama, teknik transfer yakni mengidentifikasi suatu maksud dengan lambang otoritas. Pancasila jelas merupakan lambang otoritas sepanjang zaman. Kedua, testimonial yakni dengan cara memperoleh ucapan orang yang dihormati untuk menaikkan atau meneguhkan pesan. Misalnya Ahmad Basarah sebagai Wakil Ketua MPR memberi testimoni tentang ideologi Pancasila, sehingga hal ini bergema atau beresonansi di tengah masyarakat, terlebih jika dilakukan berulang-ulang. Ketiga, bandwagon meyakinkan khalayak dengan suatu gagasan besar dan memengaruhi mereka untuk turut serta ambil bagian dalam meresonansikan Pancasila.
Sebagai buku yang diadaptasi dari skripsi, tentu buku ini layak diapresiasi. Sudah sangat jarang ada mahasiswa Starata-1 yang karya akhirnya dipublikasikan menjadi buku. Kekurangannya, ruang lingkup buku ini cukup “ambisius” dengan mengangkat teori dan konsep-konsep besar sebagai tulang punggung buku ini, yakni Teori Hierarki Pengaruh, propaganda, dan publisitas. Dampaknya detil ulasan propaganda dan publisitasnya masih kurang terelaborasi dengan rinci.
—–
Spesifikasi buku:
- Ukuran Buku: 15 x 21 cm
- 192 halaman
- Kertas isi bookpaper 55 grms
- Rp. 120.000,-
Rp 150.000 for a limited time only
*By purchasing you agree to the Terms & Conditions
Bag 1
Pada prinsipnya, kami di Komisi II DPR RI terus mengawal eksekusi dari UU yang menjadi solusi bagi 2,3 Juta tenaga honorer di berbagai instansi. Alhamdulillah setelah melewati tiga tahun kajian dan perdebatan— termasuk meyakinkan pemerintah—solusi yang win-win untuk tenaga honorer dan PPPK dapat dicapai.
Sebagaimana kesepakatan Kementerian PANRB, BKN, dan Komisi II terkait penataan tenaga non-ASN yang terdaftar dalam database BKN, akan diselesaikan dengan mengikuti seleksi CASN tahun 2024. Sementara, untuk mengetahui kualitas dan kompetensi masing-masing, penilaiannya dilakukan melalui pemeringkatan terbaik secara berurutan. Kemudian akan ditetapkan menjadi PPPK Penuh Waktu sesuai dengan kemampuan keuangan pada instansi pemerintah masing-masing.
Overview & Preview
4 Bab
192 Halaman
Buku ini merupakan kumpulan Kolom / Opini penulis di berbagai media, seperti Kompas, Detik, Kumparan, Indopos, JPNN dan sebagainya. Disini yang perlu kita tekankan bahwa tradisi menulis semakin mendapat tantangan di tengah kemajuan new media. Meski begitu,
xvi
sebagai aktivis HMI, kami selalu ingin menjadi seperti Nurcholis Madjid, yang namanya selalu dikenang karena tulisan-tulisannya. Begitu pula Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, Sjahrir, dan para pendiri republik. Mereka tidak hanya berjuang, angkat senjata dan bicara. Lebih dari itu mereka menulis, melawan penjajahan melalui pikiran, sehingga kita merasa dekat dengan para pahlawan itu—karena membaca karya- karyanya.
Pemilihan judul buku “Kacamata Doli Kurnia” memiliki makna sebagai cara pandang atau perspektif dari penulis terhadap berbagai isu.
’’
Sample Pages
Pesan Sekarang Juga!
Kaca Mata Doli Kurnia
10% discount
Dapatkan discount 10% untuk pemesanan perdana.




