Media, Propaganda, & Kolaborasi Politisi

Media massa merupakan ruang publik penting dalam peradaban umat manusia. Dengan segala plus minus yang melekat pada institusi dan proses sosialnya, media massa tetap diperlukan sebagai salah satu rujukan informasi bagi khalayak di era digital yang didominasi penggunaan media sosial. Salah satu kekuatan media massa adalah membangun konstruksi sosial tentang berbagai dimensi kehidupan yang ada di masyarakat termasuk ideologi.

Propaganda ideologi Pancasila masuk pada tipologi propaganda sosial dan propaganda integrasi. Propaganda sosial tipenya berangsur merembes menyangkut cara hidup atau idologi. Sementara propaganda integrasi menggalang kesesuaian di dalam mengejar tujuan-tujuan jangka panjang. Pancasila bukan produk instan. Ideologi ini lahir dari suasana kebatinan untuk mempersatukan perbedaan, tujuannya pun jangka panjang, yakni menghargai, menghormati dan merawat keragaman. Teknik propaganda yang digunakan dalam meresonansikan ideologi Pancasila di media massa jika disimak di berbagai paltform ada tiga. Pertama, teknik transfer yakni mengidentifikasi suatu maksud dengan lambang otoritas. Pancasila jelas merupakan lambang otoritas sepanjang zaman. Kedua, testimonial yakni dengan cara memperoleh ucapan orang yang dihormati untuk menaikkan atau meneguhkan pesan. Misalnya Ahmad Basarah sebagai Wakil Ketua MPR memberi testimoni tentang ideologi Pancasila, sehingga hal ini bergema atau beresonansi di tengah masyarakat, terlebih jika dilakukan berulang-ulang. Ketiga, bandwagon meyakinkan khalayak dengan suatu gagasan besar dan memengaruhi mereka untuk turut serta ambil bagian dalam meresonansikan Pancasila.

Sebagai buku yang diadaptasi dari skripsi, tentu buku ini layak diapresiasi. Sudah sangat jarang ada mahasiswa Starata-1 yang karya akhirnya dipublikasikan menjadi buku. Kekurangannya, ruang lingkup buku ini cukup “ambisius” dengan mengangkat teori dan konsep-konsep besar sebagai tulang punggung buku ini, yakni Teori Hierarki Pengaruh, propaganda, dan publisitas. Dampaknya detil ulasan propaganda dan publisitasnya masih kurang terelaborasi dengan rinci.

—–

Spesifikasi buku:

  • Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
  • 178 halaman
  • Kertas isi bookpaper 55 grms
  • Rp. 150.000,-

Rp 150.000 for a limited time only
*By purchasing you agree to the Terms & Conditions

Bab 1

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak keberagaman, baik dari perspektif etnis, suku, budaya, agama, serta bahasa. Semuanya bisa tumbuh bersama karena disatukan oleh prinsip bersama, Bhinneka Tunggal Ika. Negara yang besar ini juga masih bisa bersatu karena dipersatukan oleh satu ideologi buatan manusia, Pancasila. Dalam sistem ideologi bangsa, Indonesia tidak dipersatukan oleh ideologi agama karena ideologi keagamaan tidak cocok dengan keadaan dan kondisi bangsa Indonesia yang multikulturalis. Dengan berbagai perbedaan yang ada, para founding fathers lalu merumuskan sebuah ideologi bangsa Indonesia yang bisa menaungi semua komponen bangsa, yakni Pancasila.

 

Namun demikian, sebagai sebuah ideologi, Pancasila tidak serta merta bebas dari ancaman penetrasi ideologi lain. Ancaman serupa itu bisa muncul dari mana dan kapan saja, terutama ketika umat manusia saat ini hidup dalam sebuah global village bernama planet Bumi yang ‘’semakin kecil dan terbuka’’ akibat keterbukaan informasi dan komunikasi di era Internet. Banyak ideologi lain yang berbeda, bahkan bertolak belakang, dengan Pancasila bisa diakses kapan pun dan di mana pun oleh anak negeri ini, mulai dari ideologi yang oleh pengusungnya diklaim sebagai ideologi paling unggul di muka Bumi sampai ideologi yang pernah ditolak oleh sebagian anak bangsa negeri ini.

 

Agar mudah memahami kajian ini, pembaca disuguhi enam bab kajian. Bab pertama berisi latar belakang masalah mengapa kajian ini dilakukan, apa rumusan dan batasan masalahnya, apa tujuan dan manfaat penelitian, bagaimana metodologi dan metode penelitian, tinjauan pustaka, dan terakhir sistematika penulisan.

Bab kedua berisi kajian teori tentang konsep hierarki pengaruh, propaganda, ideologi, publisitas dan berita politik. Bab ketiga berisi gambaran umum mengenai Pancasila sebagai ideologi bangsa dan pengenalan Antaranews.com sebagai medium pemberitaan. Bab keempat berisi informasi komprehensif tentang informan pemberitaan tentang Pancasila, Dr. Ahmad Basarah, untuk memudahkan peneliti dan pembaca menjawab rumusan masalah yang telah disebutkan, yakni apa peran dan kapasitas Ahmad Basarah sebagai narasumber yang selalu konsisten dikutip oleh Antaranews.com dalam pemberitaan Pancasila?

Bab kelima berisi hasil temuan dari hierarki pengaruh yang me- mengaruhi propaganda Antarnews.com yang akan dilihat dari lima to- lok ukur, yakni level individu, level kerutinan media, level organisasi, level ekstra media, dan terakhir level ideologi media. Pada bab keenam, pembaca akan melihat hasil pembahasan peneliti secara detail dari hasil dan temuan data dari hasil analisis wawancara serta rujukan-rujukan yang menunjang hasil penelitian. Di bab penutup, peneliti menyampai- kan beberapa kesimpulan dan saran.

Overview & Preview

7 Bab

178 Halaman

Buku ini sebenarnya diramu dari sebuah skripsi berjudul Peran Propagandis Antaranews.com dalam Mengatasi Pertarungan Ideologi Negara (Studi Kasus Publisitas Ahmad Basarah dalam Pemberitaan Pancasila) yang ditulis oleh Mukhammad Maulana Fajri. Skripsi ini telah diujikan dengan nilai ‘’A’’ di Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Syarih Hidayatullah Jakarta. Dengan nilai ‘’A’’ untuk skripsinya itu, mahasiswa yang sepenuhnya kuliah dibiayai oleh beasiswa itu berhasil memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.96.

Tapi, bukan semata prestasi akademis itu yang mendorong saya untuk mau menjadi editor skripsi yang kemudian dibukukan dengan judul Media, Propaganda, & Kolaborasi Politisi ini. Saya melihat Fajri adalah bagian dari ‘Generasi Z’ yang sama sekali jauh dari masa kelahiran Republik Indonesia dan kelahiran ideologi Pancasila. Generasi Fajri, bahkan generasi milenial yang satu tahap mendahului mereka, hidup ketika Indonesia bukan saja telah merdeka tapi juga tengah menikmati gemerlap pembangunan dan keterbukaan informasi di era digital.

Sebagian generasi millennial sangat mungkin tidak akrab dengan Pancasila sebab materi Pancasila pernah dicabut dari pelajaran wajib di sekolah dan perguruan tinggi. Mereka juga tidak mengalami penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) saat menjadi mahasiswa baru, seperti yang dijalani generasi pendahulu mereka. Era Reformasi telah menghapus P4 dari bumi Indonesia, termasuk membubarkan Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) yang di era Orde Baru melaksanakan tugas melakukan subliminal messages tentang nilai-niai Pancasila kepada generasi bangsa.

Berbeda dengan skripsi, buku ini terdiri atas tujuh bab, yang di dalamnya bab tentang Pancasila dan Ahmad Basarah dielaborasi lebih dalam. Seharusnya bab tentang Antara dan media massa juga diletakkan dalam bab tersendiri. Tapi, karena persoalan teknis dan kesiapan materi, penjelasan tentang Antara digabung bersama penjelasan tentang Pancasila.

Buku kecil ini mungkin belum menjawab banyak pertanyaan, tapi yakinlah, dia menjadi jendela kecil yang terbuka, yang dengannya setiap orang bisa masuk ke sebuah ruangan kontemplasi untuk bertanya pelan-pelan kepada diri sendiri: ‘’Apakah saya bagian dari mereka yang membela ideologi bangsa saya sendiri?’’

Sample Pages

Dr. Ahmad Basarah merupakan salah seorang pimpinan MPR RI yang paling aktif memasyarakatkan Pancasila, baik melalui tulisan, seminar maupun press release yang dikutip media. Dalam berbagai kesempatan, saya sangat menikmati uraian beliau yang sangat mencerahkan. Itu pun disampaikan dengan bahasa yang jelas, tegas dan argumentatif.

Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. (Kepala BPIP RI)

Dr. Ahmad Basarah adalah negarawan. Sebagai penerus ideologi nasionalisme progresif yang disusun Soekarno dan tecermin dalam Pancasila, ia mempraktikkan nasionalisme itu, baik dalam kiprah kenegaraan maupun dalam pekerjaan. Salah satu tauladan yang ia lakukan adalah merekrut tenaga ahli dari kelompok yang beragam, tidak hanya dari kader GMNI, tetapi juga NU, Muhammadiyah dan kaum profesional.

Syaiful Arif (Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila)

Dr. Ahmad Basarah, seorang politikus Indonesia yang dikenal karena komitmennya terhadap Pancasila, meraih penghargaan bergengsi sebagai "Positive News Maker 2023" pada acara Anugerah TIMES Indonesia. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi dan kontribusi luar biasa Ahmad Basarah dalam membumikan Pancasila di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

TIMES Indonesia

Pesan Sekarang Juga!

Media, Propaganda, & Kolaborasi Politisi: Studi Kasus Publisitas Ahmad Basarah Bumikan Pancasila

10% discount

Dapatkan discount 10% untuk pemesanan perdana.